Senin, 19 Januari 2009


UWAIS AL-QARNI
 
SANG HAMBA DARI LANGIT
Uwais Al-Qarni, adalah seorang pemuda yang hidup sezaman dengan Nabi Muhammad SAW. Menurut sejarah, dia tinggal di negeri Yaman.
Pemuda Uwais dikenal sebagai seorang yang sangat miskih. Bapaknya sudah lama meninggal dunia karena sakit, sehingga Uwais hanya hidup bersama ibunya yang telah tua serta lumpuh, bahkan matanya pun telah buta.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, pada siang hari, Uwais bekerja mencari nafkah dengan menggembalakan domba-domba milik orang. Hasilnya cukup untuk dimakan berdua dengan ibunya. Dan bila ada kelebihan, dia membagikannya kepada para tetangganya yang hidup serba kekurangan seperti dirinya.
Meski tak pernah berjumpa langsung dengan Rasulullah SAW, karena tempat tinggal keduanya sangatlah berjauhan, namun Uwais sangat patuh menjalankan syariat Islam. Dia pun begitu merindukan bertemu dengan Nabi SAW. Bahkan, karena begitu besar cintanya kepada Kanjeng Nabi, dia pernah mengetok giginya dengan batu sampai patah, ketika didengarnya bahwa junjungannya itu mendapat cedera pada saat perang Uhud, dan giginya patah karena lemparan batu musuh-musuhnya.
RASULULLAH SAW MENYEBUTNYA SEBAGAI "SEORANG DARI LANGIT." BEGITU ISTIMEWANYA DIA, SAMPAISAMPAI RASULULLAH MEMINTA PARA SAHABAT TERDEKATNYA UNTUK MEMINTA DOA DAN ISTIGFAR DARI PEMUDA INI....
Hari terus berlalu sesuai dengan kodrat Illahi. Sementara itu, kerinduan Uwais untuk bertemu Rasulullah SAW pun semakin menjadi-jadi. Ketika kerinduannya sudah tak tertahankan lagi, Uwais datang menghadap ibunya. Di hadapan wanita renta ini kemudian dia menyampaikan segala isi hatinya, dan meminta izin untuk pergi ke Madinah.
kembali pulang, anakku!"
Mendengar ucapan ibunya, betapa gembiranya hati Uwais Al-Qarni. "Terima kasih,
lalu berkata/'Wahai Uwais anakku, pergilah! Temuilah Nabi SAW di rumahnya. Bila telah bertemu dengan Beliau, maka segeralah
Mendengar keinginar) anaknya, ibunda Uwais merasa sangat terharu. Walau dengan berat hati sang ibu melepaskan putra yang selama ini menjadi sandaran hidupnya. Dialalu berkata/'Wahai Uwais anakku, pergilah! Temuilah Nabi SAW di rumahnya. Bila telah bertemu kembali pulang, anakku!"
Mendengar ucapan ibunya, betapa gembiranya hati Uwais Al-Qarni. "Terima kasih,

Ibu! Dengan izin Allah, aku akan menepati semua nasihatmu/'jawab Uwais sambil bersujud di hadapan ibunya.
Setelah mendapatkan restu sang ibu, Uwais buru-bunj berkemas. Setelah semuanya dipersiapkan dengan baik, maka, berangkatlah dia menuju Madinah. Menurut perkiraan, jarak dari Yaman ke kota kediaman Rasulullah SAW ini sekitar 400 kilometer. Suatu jarak yang cukup jauh pada saat itu, apalagi harus ditempuh dengan hanya berjalan kaki ditambah lagi harus melewati padang pasir yang sangat ganas tandus.
Bisa dibayangkan betapa sulitnya bagi Uwais untuk bertemu dengan junjungan yang sangat dicintainya itu. Namun, pemuda ini tak pernah menyerah. Siang dan malam Uwais terus berjalan dengan tanpa menghiraukan rasa lelah.
Akhirnya, setelah melewati waktu yang cukup panjang dan beragam rintangan yang menghadang, suatu hari, sampai juga Uwais di kota Madinah,. Betapa gembira hatinya, sebab dia merasa sebentar lagi mimpinya yang selama ini terpendam akan berubah menjadi kenyataan.
Tanpa merasa lelah sedikitpun, setibanya di Madinah dia langsung mencari tempattinggal Nabi SAW. Dan setibanya di tempat yang dituju, diketuknya pintu seraya mengucapkan salam. Seseorang ke luar sambil membalas salam. Kepada orang tersebut Uwais segera menanyakan di mana Nabi Muhammad SAW berada. Ternyata yang dicarinya tak ada di tempat, karena sedang di medan perang Uhud. Uwais pun hanya dapat berjumpa dengan Siti Aisyah RA, istri Nabi Muhammad SAW.
Dapat dibayangkan, betapa kecewanya hati Uwais Al-Qami. Dari jauh dia datang hanya untuk bertatap muka dengan Rasulullah, namun yang dicarinya ternyata sedang tidak berada di tempat. Dalam hatinya timbul keinginan kuat untuk menunggu sampai Nabi Muhammad SAWtiba kembali di rumah dari medan perang Uhud.Tetapi, kapankah Nabi datang? Sementara di telinganya masih temgiang dengan jelas pesan ibundanya yang tua dan sakit-sakitan itu, agar dirinya segera pulangke Yaman.
Akhirnya, karena ketaatannya kepada sang ibu, Uwais memutuskan untuk buru-buru pulang dan meninggalkan mimpinya bertemu Nabi SAW. Uwais pun berpamitan kepada Siti Aisyah RA, sambil tak lupa menitipkan salam untuk Rasulullah SAW. Setelah itu dia melangkahkan kaki untuk pulang kembali ke Yaman dengan hati diliputi perasaan terharu yang tiada taranya.
Sementara itu, pada saat peperangan telah usai, Nabi pun kembali ke rumahnya. Beliau pun langsung menerangkan tentang orang
 
yang mencarinya, sebelum Siti Aisyah sendiri menjelaskan tentang anak muda yang datang dari jauh tersebut. Dikatakan oleh Nabi bahwa Uwais Al-Qami adalah anak yang patuh kepada ibunya dan merupakan seorang penghuni langit (maksudnya Uwais adalah orang yang berderajat sangat tinggi di sisi Allah SWT).
Mendengar pernyataan Nabi, semua sahabat yang berkumpul di tempat itu, juga Siti Aisyah RA, sangat terkagum-kagum. Siti Aisyah lalu menerangkan bahwa memang benar ada seorang lelaki yang mencari Nabi, namun segera pulang kembali ke Yaman karena Ibunya sudah tua dan sakit-sakitan. Bahkan karena itu si pemuda harus melupakan mimpinya bertemu dengan Rasulullah SAW.
Nabi melanjutkan keterangannya tentang Uwais kepada para sahabatnya/'Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah, bahwa dia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapaktangannya."

Sesudah itu Beliau memandang kepada Ali RA dan Umar RA, seraya berkata, "Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya. Ketahuilah, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi."
Beberapa waktu kemudian, Nabi wafat. Kekhalifahan digantikan oleh Abu Bakar, setelah itu digantikan lagi oleh Umar RA.
Suatu ketika, pada saat menjabat khalifah, Umar teringat pada sabda Nabi tentang Uwais Al-Qarni yang disebutkan sebagai sang penghuni langit. Beliau pun lalu mengingatkannya pula pada Ali RA. Sejak itu, setiap ada kafilah (rombongan yang sedang mengadakan perjalanan) yang datang dari Yaman, maka, Umar dan Ali selalu menanyakan mengenai Uwais Al-Qarni. Apakah dia turut bersama mereka. Namun sampai sekian lama mereka tak pernah bisa berjumpa dengan pemuda istimewa ini.
Hingga suatu ketika, dalam salah satu kafilah, akhirnya Umar dan Ali RA berhasil menjumpai Uwais. Dalam pembicaraan bertiga itu diketahui bahwa ibunda Uwais telah meninggal dunia.
Sesuai pesan Nabi, Umar dan Ali pun memohon agar Uwais membacakan doa dan istighfar untuk mereka. Tetapi Uwais menolak seraya berkata, "Sayalah yang harus meminta doa kepada kalian."
"Kami datang ke sini untuk mohon doa dan istighfar dari Anda,"desak khalifah Umar RA.
Karena terus didesak oleh kedua sahabat ini, akhirnya Uwais pun mengangkat tangan, berdoa dan membacakan istighfar. Setelah itu khalifah Umar berjanji untuk menyumbangkan uang Negara dari baitul mal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya.
Mendengar rencana khalifah Umar, buru-buru Uwais menolak kemudian berkata, "Hamba
 
mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang miskin ini tidak diketahui orang lagi."
Beberapa tahun berselang, Uwais Al-Qarni berpulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat akan dimandikan, tiba-tiba saja nampak sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke pembaringan untuk dikafani, di sana pun telah ada orang yang menunggu untuk mengafaninya. Mereka adalah orang-orang tak dikenal yang entah dari mana datangnya.
Demikian pula pada saat orang-orang hendak menggali kuburannya, di sana ternyata sudah ada sekelompok orang yang sedang menggali. kubur hingga selesai. Pada waktu usungan dibawa menuju kuburan, manusia luar biasa banyaknya dan berebutan untuk mengusungnya.
Meninggalnya Uwais Al-Qarni telah menggemparkan penduduk kota Yaman, sebab banyak hal yang sangat menakjubkan dan tak masuk akal. Sedemikian banyaknya orang yang tak dikenal berdatangan untuk mengurus jenazah serta pemakamannya. Padahal pada masa hidupnya, Uwais adalah seorang yang sangat miskin yang tak dihiraukan orang. Bahkan tak sedikit yang menganggap bahwa Uwais adalah orang yang tak waras atau gila.
Sejak jenazahnya dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu. Subhanallah!
Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka bertanya-tanya, "Siapakah sebenarnya engkau, wahai Uwais Al-Qarni? Bukankah Uwais hanyalah seorang yang sangat miskin, yang tak memiliki apa-apa yang sehari-hari kerjanya sekadar sebagai penggembala domba dan unta?Tapi, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya rnanusia-manusia yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah yang sedemikian banyak. Agaknya mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, untuk mengurus jenazah dan pemakamanmu."
Berita meninggalnya Uwais Al-Qarni dan keanehan-keanehan yang terjadi ketika wafatnya, telah tersebar ke mana-mana. Baru saat itulah penduduk Yaman menyadari, siapa sebenarnya lelaki miskin tersebut. Selama ini tak ada orang yang mengetahui, siapa sebenarnya sosok Uwais Al-Qarni itu. Barulah pada hari wafatnya mereka mendengar sebagaimana yang telah disabdakan oleh nabi Muhammad, bahwa Uwais Al-Qarni adalah seorang penghuni langit. Jelasnya, memiliki derajat yang sedemikian tinggi di sisi Allah SWT. ©